6:40 pm - Thursday April 19, 2018

[Kisah Nyata] Hujan Pasir


Tepat tengah malam pukul 12.30 di Hari Jum’at 14 Februari saya terbangun oleh suara anak-anak yang berisik.Mati lampu.Saya pikir hanya mati lampu karena lampu-lampu mati,kipas mati lalu ada dua orang asing yang masuk membawa lilin.
Awalnya tidak panik,namun kemudian mendengar suara hujan,orang-orang panic dan berteriak.Saya pun penasaran dan akhirnya keluar melihat dan masya Alloh,hujan pasir.
Ini pengalaman pertama melihat hujan pasir yang ternyata material dari ledakan Gunung Kelud.Saya pun panik dan langsung memantau santri termasuk menghimbau memakai masker atau penutup hidung.
Foto hujan pasir hasil jepretan kamera saya.Mirip hujan salju.
Segera setelah itu pihak pesantren memutuskan memulangkan seluruh santri ke Jakarta karena khawatir akan erupsi susulan dan juga masalah kesehatan santri.
Dihari jum’at setelah sholat Jum’at,angin kencang menyapu Desa Tulungrejo – Pare dan membawa gulungan debu vulkanik.Sangat berbahaya.
Ketika menuju stasiun pun,terlihat jalan-jalan kota Kediri masih penuh pasir dan debu vulkanik beterbangan.Pusat-pusat perbelanjaan belum ada yang aktif.
Dalam perjalanan pulang menggunakan kereta,terlihat pemandangan mengerikan dari tebalnya pasir dan debu yang menutupi sejumlah kota dan kabupaten terutama Solo dan Jogja.Bahkan debu tebal pun masuk ke dalam kereta yang menempel di pakain dan tas penumpang.Semua penumpang menggunakan masker.Namun karena tebalnya debu membuat sebagian kesulitan.
Lagi-lagi gejala alam ini menjadi pertanda akan akhir zaman sebagaimana disebutkan dalam hadits.Semoga para korban musibah Gunung Kelud dimudahkan dan senantiasa dilindungi.Demikian pula kita semoga dijauhkan dari musibah semacam ini.Amin
Ustadz Abu Hafizh Herman Syamsuddin al-hafizh

Komentar

Komentar

Bagikan artikel ini ke : Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
Filed in: Hikmah, Umum