6:58 pm - Thursday April 19, 2018

Menag: Sejarah Membuktikan Al Quran Terpelihara Kesahihannya

Hidayatullah.com–Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan, persoalan kitab suci bukan persoalan teks. Sejarah membuktikan Al Quran adalah kitab suci yang terpelihara kesahihan dan keaslian teks-teksnya. Jaminan keterpeliharaannya dinyatakan sendiri oleh Allah.

Hal itu dikatakan Menteri Agama ketika membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Al Quran di Serang, Banten, Selasa (21/05/2013) malam. Mukernas bertema “Al Quran di Era Global: Antara Teks dan Realitas” ini akan berlangsung sampai 24 Mei.

Kegiatan itu diselenggarakan Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran (LPMA) Balitbang Diklat Kementerian Agama yang dikepalai Muchlis M Hanafi.

Menag mengatakan, pentasihan Al Quran hendaknya tidak terbatas pada penelitian tanda baca, huruf, kata, dan seterusnya. Ulama pun harus memperhatikan originalitas. Tertukarnya halaman jangan sampai terjadi.

Soal keaslian atau originalitas ini, ia mengaku, sering menjelaskan ke berbagai pihak menghadapi pihak luar.

Lantas Menag Suryadharma Ali bercerita tentang pengalamannya pergi ke Thailand. Di Negeri Gajah itu ia didampingi bhiksu berfoto dengan latarbelakang patung Buddha. Lantas ia bertanya kepada pendampingnya, jika patung itu diberi kain agar terlindungi dari panas, apakah umat Buddha setuju. Dijawab oleh bhiksu, tidak. Menag pun menjawab, setuju.

Pada kesempatan lain, Menag bertanya, jika bendera merah putih ditambahi warnanya dengan hijau, apakah itu bisa disebut sebagai bendera bangsa Indonesia. Tentu, jawabnya tidak. Itu bukan lagi bendera Indonesia karena tidak merah putih lagi.

Jika Al Quran yang disusun dengan baik, kemudian diubah-ubah lagi, seperti yang dilakukan kelompok Ahmadiyah, tentu keasliannya hilang. Maka, kitab itu bukan lagi dapat disebut Al Quran. Padahal, Al Quran adalah kitab suci bagi umat Islam. “Jelas saja dapat menimbulkan kemarahan,” katanya.

Untuk itu, ia minta apa sudah dimuliakan oleh agama, umat hendaknya harus menghormati apa adanya. Al Quran jelas tak bisa diubah-ubah. Karena itu, ia tak sepaham dengan aliran kebebasan mutlak, bahwa segala sesuatu dapat dilakukan semaunya. Dalam bernegaranya saja ada aturan dan pemerintah yang mengatur.

“Di dunia ini tidak ada kebebasan mutlak,” jelas Suryadharma Ali, seperti diberitakan Antara.*

Komentar

Komentar

Bagikan artikel ini ke : Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
Filed in: Aqidah