12:51 pm - Tuesday August 4, 2020

Ketika Putra-Putri “Jepang” Belajar al-Quran

Bermula dari keinginan kaum Muslim-Muslimah Jepang yang menginginkan putera puteri mereka mendapatkan pendidikan Islam yang baik, pada bulan Mei tahun 2011, dibentuklah Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Hikari. Pada saat didirikan, peserta didik TPA Hikari berjumlah 7 orang, meliputi anak keluarga asal Indonesia dan anak keluarga asal Jepang. Rupanya, jumlah pesertanya terus bertambah, kini mencapai sejumlah 16 anak dan 7 di antaranya anak dari ayah Muslim asli Jepang.

TPA Hikari ini salah satu taman pendidikan Islam dan Quran yang ada di Tokyo. Salah satu keunikan TPA ini adalah karena genuine ’made by Indonesian’.
Adapun pusat pendidikan Islam di Tokyo biasanya diselenggarakan oleh saudara-saudari Muslim Pakistan, Turki dan berbagai negara lainnya yang umumnya menggunakan bahasa Inggris atau Jepang sebagai media pembelajaran.

Dipilihnya nama ’Hikari’ sebagai nama TPA bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, ’Hikari’ berarti cahaya. Para pendiri TPA Hikari memiliki obsesi untuk bisa melahirkan pemuda-pemudi Jepang masa depan pembawa cahaya aqidah tauhid, beribadah yang shahih, berakhlaq mulia, kuat fisiknya, dan cerdas.

Kegiatan TPA ini diadakan 2-3 kali seminggu. Waktu yang digunakan adalah sore hari, setelah anak-anak yang sudah sekolah pulang. Mengingat banyaknya fasilitas publik yang tersedia di Tokyo, TPA Hikari pun tidak ketinggalan memanfaatkan berbagai fasilitas tersebut sebagai tempat belajar. Salah satu tempat favorit belajar Quran bagi anak-anak TPA Hikari adalah taman-taman bermain, yang dalam bahasa Jepang disebut ’koen’.
Di koen itulah, sebulan sekali anak-anak TPA Hikari mempelajari berbagai ciptaan Allah sehingga mampu membaca ayat-ayat kauniyah dan mengingat Allah. Mereka juga gemar mengikuti berbagai permainan dan menyanyi nasyid bersama dipandu Sensei-sensei TPA Hikari yang ramah.

Pada berbagai momentum, seperti Shalat Iedul Fithri di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), TPA Hikari sering diundang untuk ikut menyemarakkan berbagai kegiatan anak-anak.
Sebagai contoh, setelah shalat Ied, diadakan acara ’Ied Ceria’ yang menampilkan kebolehan anak-anak Muslim Indonesia-Jepang. Di acara seperti ini, mereka menunjukkan hafalan Quran, puisi dan berbagai pementasan lainnya.

Kita mungkin perlu melihat dari kacamata anak-anak muslim Jepang. Di sekolah saat jam makan siang, anak-anak Jepang lainnya sering bertanya, “Kenapa tidak makan babi?” Ini kerap menimbulkan rasa terasing bagi anak-anak Muslim Jepang. Di komunitas anak-anak Muslim seperti TPA Hikari inilah, mereka menemukan saudara-saudari ’aslinya’.
Perasaan bahwa mereka tidak sendiri dan masih merupakan bagian dari komunitas itu sangat penting bagi perkembangan psikologis anak-anak. TPA juga berperan dalam memberikan kepercayaan diri bagi anak-anak muslim untuk bangga dengan identitas Islam. Dan hasilnya mereka dapat menolak saat sensei di sekolah meminta mereka untuk menulis wish (harapan) dikertas lalu menggantungnya di pohon, menggambar pohon natal, dan tidak percaya kalau ada sinterklaus yang akan datang dimalam natal.

Semoga lebih banyak lagi diselenggarakan pusat pendidikan Islam dan Quran di Tokyo dan Jepang secara umum. Agar kelak generasi ini mampu membentuk wajah Jepang yang sama sekali baru.  Di mana masyarakat Jepang akan mengatakan; “Nyatakan Tiada Ilah selain Allah.”.*/Kiriman Fariz Nurwidya, Jepang

Sumber

Bagikan artikel ini ke : Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
Filed in: Umum